INI ADALAH MATERI KULIAH MANAJEMEN MUTU KESEHATAN MASYARAKAT. SEMUANYA ADA ENAM BAB SILAHKAN DIDOWNLOAD DISINI

BAB I PENDAHULUAN

Globalisasi mempertinggi arus kompetisi disegala bidang termasuk bidang kesehatan dimana pelayanan kesehatan dintutut untuk memberikan pelayanan yang bermutu. Untuk dapat mempertahankan eksistensinya, maka setiap organisasi dan semua elemen-elemen dalam organisasi harus berupaya meningkatkan mutu pelayanannya secara terus menerus. Sistem pengembangan dan manajemen kinerja pelayanan dan sinkron dengan program jaminan mutu (Quality Assurance). Kecenderungan masa kini dan masa depan menunjukkan bahwa masyarakat semakin menyadari pentingnya peningkatan dan mempertahankan kualitas hidup (quality of life). Oleh karena itu pelayanan kesehatan yang bermutu semakin dicari untk memperoleh jaminan kepastian terhadap mutu pelayanan kesehatan yang diterimanya. Semakin tinggi tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kesehatan untuk  mempertahankan kualitas hidup, maka customer akan semakin kritis dalam menerima produk jasa, termasuk jasa pelayanan kesehatan, oleh karena itu peningkatan mutu kinerja tenaga kesehatan perlu dilakukan terus menerus.

Saat ini kita telah menuju dan akan mengarungi abad XXI, suatu abad yang diawali dengan globalisasi ekonomi yang melanda semua negara di dunia. Dalam sejarah umat manusia, belum pernah pergantian abad, yang sekaligus merupakan pergantian millennium (masa seribu tahun), ditandai dengan globalisasi ekonomi yang sedemikian pesat, serentak, dan pervasive. Globalisasi ekonomi dimungkinkan dengan semakin luasnya pemanfaatan smart technology (komputer, telekomunikasi dan peralatan kantor elektronik) dalam semua arena kehidupan dan kemajuan yang pesat dalam bidang transportasi.

Globalisasi yang melanda Indonesia secara cepat membuka, cakrawala baru bagi manajemen pelayanan kesehatan Indonesia, yang semula hanya tertuju ke lingkungan lokal domestik, menjadi terbuka ke lingkungan global. Tiba-tiba manajemen pelayanan kesehatan Indonesia dipaksa untuk mengikuti “olimpiade” dalam menghasilkan produk jasa tersebut bagi masyarakat. Keadaan ini memaksa manajemen pelayanan kesehatan Indonesia untuk melakukan rekayasa ulang terhadap manajemen yang selama ini digunakan untuk menghasilkan produk dan jasa.

Di dalam lingkungan kesehatan global, costumer telah mengalami perubahan pesat, baik dalam tuntutan mereka maupun cara mereka memenuhi tuntutan mereka. Oleh karena itu, untuk dapat bertahan hidup dan berkembang dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang telah berubah ini, manajemen perlu mengubah paradigma mereka, agar sikap dan tindakan mereka dalam menjalankan pelayanan kesehatan menjadi efektif.

Total quality management merupakan pendekatan yang digunakan oleh pelayanan kesehatan untuk tetap mampu bertahan dan berkembang dalam persaingan global. Manajemen pelayanan kesehatan Indonesia perlu menggunakan paradigma baru sebagai dasar untuk mengelola pelayanan kesehatan mereka, sehingga dapat menjadikan pelayanan kesehatan mereka mampu bertahan dan berkembang dalam lingkungan persaingan global ini.

Mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh ada tidaknya kritikan dan keluhan dari pasiennya, lembaga sosial atau swadaya masyarakat dan bahkan pemerintah sekalipun. Mutu akan diwujudkan jika telah ada dan berakhirnya interaksi antara penerima pelayanan dan pemberi pelayanan. Jika pemerintah yang menyampaikan kritikan ini dapat berarti bahwa masyarakat mendapatkan legalitas bahwa memang benar mutu pelayanan kesehatan harus diperbaiki. Mengukur mutu pelayanan dapat dilakukan dengan melihat indikator-indikator mutu pelayanan rumah sakit yang ada di beberapa kebijakan pemerintah, sudahkan kita mengetahuinya. Analisa indikator akan mengantarkan kita bagaimana sebenarnya kualitas manajemen input, manajemen proses dan output dari proses pelayanan kesehatan secara mikro maupun makro.

BAB II

KONSEP MUTU DALAM PELAYANAN KESEHATAN

 

A. Gambaran Tentang “Mutu”

Pendapat tentang defenisi mutu bermacam-macam, tiga orang pakar terkenal dalam bidang bisnis mengemukakan pendapatnya tentang mutu. W. Edward Deming adalah seorang genius yang terkenal karena telah merevitalisasi industri bisnis Jepang, dengan berfokus pada “Total Quality Management (TQM) ” dan “Continous Quality Improvement (CQI). Konsep mutu dalam “Deming Chain Reaction” menekankan bahwa untuk tercapainya sukses organisasi atau bisnis,  telah dibuat formulasi sebagai berikut:

1.      Meningkatkan mutu berkesinambungan,

2.      Menekan beaya dengan cara; menekan kesalahan dalam pekerjaan, mencegah   terjadinya pengulangan, menekan terjadinya kelambatan dan penggunaan waktu dan sumber sumber yang lebih baik;

3.      Tingkatkan produktifitas,

4.      Menangkap pangsa pasar dengan mutu bagus dan harga lebih rendah.

5.      Tetap dalam koridor bisnis,

6.      Tingkatkan cara kerja. Bila semua orang mau meningkatkan dan mengembangkan sistem yang efisien akan dapat menghasilkan mutu yang lebih tinggi dengan beaya yang rendah.

Mutu adalah faktor keputusan mendasar dari pelanggan. Mutu adalan penentuan pelanggan, bukan ketetapan insinyur, pasar atau ketetapan manajemen. Ia berdasarakan atas pengalaman nyata planggan terhadap produk dan jasa pelayanan, mengukurnya, mengharapkannya, dijanjikan atau tidak, sadar atau hanya dirasakan, operaional tehnik atau subyektif sama sekali dan selalu menggambarkan target yang bergerak dalam pasar yang kompetitif.

“Mutu produk dan jasa adalah seluruh gabungan sifat-sifat produk atau jasa pelayanan dari pemasaran, engineering, manufaktur, dan pemeliharan dimana produk dan jasa pelayanan dalam menggunakannya akan bertemu dengan harapan pelanggan”. Dengan pengertian mutu yang dikemukakan oleh DR.Armand V.Feigenbaum, seorang pakar mutu yang pernah menjabat Ketua International Academy For Quality, dan Presiden The American Society for Quality Control. Pendapatnya amat berpengaruh terhadap peningkatan mutu di Jepang, Amerika dan Negara lain.

Tiap orang mempunyai pendapat tentang apa yang dimakudkan dengan mutu. Konsep mutu yang erarti bagus, lux, atau paling bagus tidaklah sama secara professional. Sebagai missal : peralatan kedokteran yang ermutu menurut dokter tentulah bermacam-macam sesuai pendapatnya. Beberapa defenisi, professional tentang mutu banyak dikemukakan, agak berbeda-beda namun saling melengkapi yang menambah pengertian dan wawasan kita tentang apa yang dimaksud seberna tentang mutu antara lain:

  • Mutu adalah gambaran total sifat dari suatu produk atau jasa pelayanan yang berhubungan dengan kemampuannya untuk memberikan kebutuhan kepuasan (American Society for Quality Control).
  • Mutu adalah “Fitness for use”, atau kemampuan kecocokan penggunaan (J.M.Juran).
  • Mutu adalah kesesuaian terhadap permintaan persyaratan (The conformance of requirements-Philip B. Crosby, 1979).

William Edwards Deming memberikan pedoman-pedoman manajemen yang terkenal dengan 14 butir manajemen Deming. Teori ini menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mentransformasi “budaya mutu” atau perubahan budaya organisasi. Bahwa inisiatif mutu harus dimulai dari majemen puncak, karena sebelumnya hanya dipercayakan saja pada para operator-operator di tempat kerja, meskipun terjadi “bad practice”.

14 butir manajemen Deming, yaitu:

1.   a) Ciptakan dan umumkan kepada semua pegawai, suatu statemen tentang maksud dan tujuan dari perusahaan atau organisasi. Manajemen harus menunjukkan terus menerus komitmen mereka terhadap statemen ini.

b) Ciptakan terus menerus maksud untuk peningkatan berkelanjutan dari produk   dan jasa.

2.   a) Pelajari filsafat baru, manajemen puncak dan setiap orang

b) Adobsi filsafat baru untuk kestabilan ekonomi

3.   a) Pahami maksud dari inspensi, untuk meningkatkan proses dan reduksi biaya

b) Hentikan yang ketergantungan pada inspeksi untuk memperoleh mutu

4.   Akhiri praktek pemberian penghargaan bisnis yang berdasarkan daftar harga saja.

5.   Tingkatkan secara konstan dan selamanya system produksi dan jasa pelayanan.

6.   a) Lembagakan pelatihan

b) Lembagakan pelatihan dalam kerja

7.   a) Ajarkan dan lembagakan kepemimpinan

b) Adopsi dan lembagakan metode modern dari supervise dan kepemimpinan

8.   a) Hilangkan rasa takut. Ciptakan kepercayaan. Ciptakan iklim untuk inovasi

b) usir ketakutan

9.   a) Optimasi kearah maksud dan tujuan perusahaan usaha-usaha, tim, kelompok, pegawai.

b) Singkirkan hambatan diantara bagian-bagian dan individu-individu

10. a) Eliminasi desakan anjuran untuk kerja keras

b) Eliminasi penggunaan slogan-slogan, poster dan desakan, anjuran atau nasihat-nasihat.

11. a)- Eliminasi angka-angka kuota produksi. Sebagai penggantinya, berikan     pelajaran dan lembagakan metode-metode peningkatan.

– Eliminasi manajemen erdasar sasaran

b) Eliminasi standar-standar kerja dan angka-angka kuota

12. a) Singkirkan penghalang yang merampas kebanggaan pegawai dan kecakapan bekerja.

b) Pindahkan penghalang yang merampas hak pekerja atas kebanggaan dalam kecakapan bekerja.

13. a) Doronglah pendidikan dan peningkatan pribadi setiap orang.

b) Lembagakan suatu program pendidikan dan pelatihan ulang dengan semangat.

14. a) Buatlah kegiatan untuk menyelenggarakan transformasi

b) Tetapkan komitmen tetap manajemen puncak untuk senantiasa meningkatkan mutu dan produktivitas.

 

Philip. B. Crosby berpendapat bahwa :

Menurut Philip B.Crosby, ada “empat hal yang mutlak (absolute)” menjadi bagian integral dari manajemen mutu, yaitu bahwa:

1.      Defenisi mutu adalah kesesuain terhadap persyaratan (The Definition of Quality is conformance to requirements).

2.      System mutu adalah pencegahan (The system of quality is prevention).

3.      Standar penampilan adalah tanpa cacat (The performance standard is Zero Defects).

4.      Ukuran mutu adalah harga ketidaksesuaian (The measurement of quality is the price of nonconformance).

Empat absolute mutu

Absolute 1: Mutu adalah kesesuaian terhadap persyaratan

Absolute 2 : Sistem mutu adalah pencegahan

Absolute 3 : Penampilan mutu adalah Zero Defects

Asbolute 4 : Ukuran mutu adalah harga ketidaksesuaian