Fungsi bahasa adalah kounikasi atau menyampaikan pesan atau makna dari pembicara kepada lawan bicara.

Kalimat komunikatif terbagi atas dua kategori yaitu kalimat “pelaku” atau “perlakuan” atau performatives dan kalimat “penyata” atau constatives.

Tata bahasa tradisional terbagi atas tiga yakni pernyataan (statement), pertanyaan (question), dan perintah (commands).

Menurut Austin ujaran/kalimat yang bentuk formalnya adalah penyataan biasanya memberi informasi, dan terkadang bermakna lain yang “melakukan suatu tindakan bahasa”.

Aturan tindak bahasa dari sudut pandang pembicara

  1. Harus ada urutan peristiwa yang dianggap baku.
  2. Ucapan itu harus dilakukan oleh orang tertentu yang ditunjuk dan berwenang dalam situasi tertentu yang sifatnya resmi.
  3. Semua orang dalam tempat atau ruangan itu harus ikut ambil bagian, dan suasana tidak di benarkan kalu santai.
  4. Prosedur itu harus diikuti secara benar dan lengkap; tidak ada bagian yang dihilangkan ataupun di tambahakan.

Kalimat Eksplisit artinya adalah bahwa si pembicara mengungkapkan sesuatu yang bermakna sama dengan apa yang diucapkannya. Contoh : “saya berjanji akan”

Kalimat Implisit artinya maksud yang diutarakan oleh pembicara pada kalimat ini diungkapkan secara tidak langsung atau tersurat. Contoh : “kalau hukan licin”

Austin merumuskan tindak bahasa dari sudut pandang pembicara yang tidak berkaitan/berkenaan dengan 4 syarat diatas menjadi 3, yaitu:

  1. Tindak Bahasa Lokusi yakni mengatakan sesuatu dalam arti berkata.
  2. Tindak Bahasa Ilokusi yakni tindak bahasa yang diidentifikasi dengan kalimat pelaku yang eksplisit.
  3. Tindak Bahasa Perlokusi yakni tindak bahasa yang dilakukan sebagai akibat atau efek dari ucapan orang lain.

Tiga tindak bahasa yang terjadi sekaligus:

  1. Proposisi (makna dalam kata) dan Ilokusi (nilai dalam kata)
  2. Nilai Ilokusi
  3. Tindak Perlokusi

Searle menekankan tindak bahasa dari sudut pendengar, yakni bagaimana “nilai ilokusi” itu di ungkapkan atau difahami oleh lawan bicara. Pemikiran Searle ialah bahwa tujuan-tujuan pembicara sukar di teliti, sedang interpretasi lawan bicara tampak dari reaksi yang diberikan pada ucapan-ucapan pembicara.

Ditinjau dari pihak pembicara, dikenal tindak bahasa ilokusi, yakni mengatakan sesuatu balam arti “berkata”. Dengan mengungkapkan tindak bahas ilokusi, seorang pembicara mengungkapkan nilai ilokusi.

Faktor yang menentukan tindak bahasa ilokasi yang di ucapkan wajar dan dapat diterima atau tidak oleh lawan bicara adalah (1) Siapa yang mengambil bagian dalam wacana itu? (2) Waktu wacana terjadi (3) Tempat wacana (4) Topik yang digunakan pada pembicara (5) Jalur yang digunakan para pembicara.