BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, filsafat meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya, ternyata muncul kecenderungan lain. Filsafat Yunani kuno yang awalnya merupakan suatu kesatuan kemudian terpecah-pecah.

Sebelum abad ke 17 ilmu pengetahuan identik dengan filsafat. Pada perkembangan selanjutanya, yakni pada abad ke 17, mulai muncul perpisahan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (Ismaun, 1:2001) yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari  filsafat dan ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.

Dalam perkembangan dari masa ke masa, filsafat melahirkan konfigurasi yang menunjukkan “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar bercabang subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri.

Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru. Bahkan ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi, seperti spesialisasi-spesialisasi. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan suatu sistem yang saling menjalin dan taat asas (konsisten).

Untuk mengatasi perbedaan antara ilmu satu dengan ilmu lainnya dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Kenyataan ini hanya dapat dijembatani oleh filsafat. Hal ini senada dengan pendapat Imanuel Kant (Anton Bakker, 2:1994) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu, filsafat disebut sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (The Great Mother of The Science).

Filsafat merupakan pengetahuan ilmiah dan sebagai penerus pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu menempatkan objek sasarannya pada ilmu. Filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.

Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menguraikan tentang hubungan filsafat ilmu dengan ilmu-ilmu lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

   Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi fokus bahasan dalam makalah ini adalah :

  1. Apa makna dan ciri-ciri filsafat ilmu?
  2. Apa peran filsafat ilmu dalam ilmu pengetahuan?

b.  Apa hubungan filsafat ilmu dengan berbagai ilmu pengetahuan?

1.3 Tujuan Penulisan

            Tujuan penulisan makalah ini adalah :

  1. Untuk mengetahui makna dan ciri-ciri filsafat ilmu.
  2. Untuk mengetahui peran filsafat dalam ilmu pengetahuan.
  3. Untuk mengetahui hubungan filsafat ilmu dengan berbagai ilmu pengetahuan.

 

 


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Filsafat Ilmu

            Kata “filsafat” berasal dari bahasa Inggris, dari kata “philosophy” dan dari bahasa Yunani dari kata “philosophia”. Akar katanya ialah “philos” yang berarti cinta dan “sophia” yang berarti kearifan atau lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikan dalam memutuskan soal-soal praktis.

            Filsafat timbul karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan.

Robert Ackermann (Ismaun, 11:2001) berpendapat bahwa filsafat ilmu adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan dengan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan. Sementara Cornelius Benjamin (Ismaun, 11:2001) mengemukakan bahwa filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafat yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.

            Titus (Juhaya, 2-5:2005) mengemukakan bahwa pengertian filsafat ilmu adalah

  1. Filsafat ilmu adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam, bsia tersebut akan menghadapi situasi yang dialami dengan berpikir secara tenang.
  2. Filsafat ilmu adalah  manusia dapat melakukan kritik dan refleksi tentang suatu persoalan.
  3. Filsafat ilmu adalah .
  4. Filsafat ilmu adalah .

Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, filsafat membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan. Sementara di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan.

Berdasarkan uraian di atas, maka diperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu.

Untuk Lebih Lengkapnya Silahkan Download Disini