EKUADOR–MI: Sebanyak 30 jenis spesies baru berhasil ditemukan di hutan Ekuador dalam sebuah penelitian yang dilakukan peneliti gabungan Amerika Serikat dan Ekuador. Dari 30 jenis spesies tersebut terdapat katak kaca yang tubuhnya tembus pandang.

Katak Transparan Ditemukan di Hutan EkuadorCCTV.com

Spesies-spesies baru tersebut ditemukan di sebuah hutan dataran tinggi di pegunungan di Ekuador, tulis para peneliti yang tergabung dalam Reptile & Amphibian Ecology International (RAEI) yang dikepalai oleh ahli biologi AS Paul Hamilton dalam sebuah laporan yang diumumkan pada 14 Januari.

Ke-30 jenis spesies baru yang ditemukan RAEI tersebut sangat unik dan dengan perilaku hidup yang lain dari biasanya. Sebagai contoh adalah katak dengan mata merah, katak ini sangat unik karena perilakunya yang berbeda dari jenis katak biasanya. Katak ini hidup benar-benar di pepohonan, bukannya bertelur di air, mereka menaruh telur-telurnya di pohon. Katak ini juga tidak menetas sebagai kecebong, melainkan menetas langsung dan seperti induk mereka.

Satu spesies lagi yang unik adalah tokek bersisik dengan mata besar namun sangat kecil. Tokek ini sangat kecil sekali yaitu hanya sebesar penghapus yang menempel pada pensil. “Mereka merangkak di sampah dedauan di dasar hutan, dan mereka begitu kecil sehungga sangat sulit ditemukan,” Hamilton menjelaskan.

Namun yang paling unik dari spesies baru yang ditemukan adalah katak kaca. Katak ini disebut katak kaca karena tubuh mereka yang transparan sehingga bisa tembus terlihat. Menerut keterangan peneliti, katak tersebut bisa tembus terlihat karena proses pigmentasi sehingga organ dalam tubuh serta aktifitas jantung yang berdetak bisa terlihat.

Lebih dari 150 spesies katak kaca ditemukan di pohon-pohon hutan hujan di Amerika Tengah dan Selatan, ungkap RAEI. Namun jumlah itu terancam punah.

Jenis-jenis spesies baru lainnya yang ditemukan adalah dari jenis reptil seperti ular, iguana dan juga dari jenis serangga. Dari jenis reptil antara lain Iguana Cebol, Kadal yang bernafas dengan kulit, ular pemakn siput, dan serangga penyamar yang benar-benar baru terlihat.

RAEI mengaku mereka sangat beruntung dapat menemukan spesies-spesies baru tersebut karena semuanya dalam kondisi yang terancam punah akibat pemanasan global. Menurut kelompok peneliti yang berbasis di Arizona, AS itu, mereka memerlukan waktu lebih banyak untuk bisa mencari lagi karena jika tidak bisa diteruskan kita tidak akan pernah melihat banyak spesies-spesies baru tersebut.