1. I. Pengertian Etika

Istilah etika atau seperti yang lazim di sebut “etik” berasal dari bahasa latin “Ethica”, yaitu ilmu susila, ilmu ahlak (etis sama dengan bersusila, penuh ahlak, beradab dan bertindak sesuai dengan norma-norma). Dalam bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah, ukuran-ukuran bagi tingkah laku yang baik. Atau Rathos adalah yang berarti adat kebiasaan,. Jadi etika aialah kebiasaan yang baik dalam masyarakat, yang kemudian mengendap menjadi norma atau kaidah, atau dengan kata lain menjadi normative dalam kehidupan manusia.

Menurut G. R. Terry dalam bukunya Principles of Organization and Management, menyatakan etika mempersoalkan tingkah laku perorangan dan kewajiban moral dengan memberikan terhadap hubungan antara manusia yang berkenan hal benar dan salah.

Etika ialah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan melihat pada amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui akal pikiran. Kemudian norma berasal dari bahasa latin yang juga berarti nilai, ukuran, pedoman, adat dalam organisasi dan dalam masyarakat.juga istilah norma yaitu biasa, menurut ukuran, kemudian istilah lain yang biasa yaitu “normalisasi” adalah penyesuaian dengan ukuran dan peraturan yang telah umum. Etika administrasi lebih ditekankan pada rasa tanggung jawab dalam dalam melaksanakan kewajiban dan menuntut hak. Hak administrasi adalah hak bersyarat, demikian juga pemberian jabatan adalah atas dasar rasa tanggung jawab yang mengangkat, terhadap pegawai yang di beri jabatan.

Oleh sebab itu agar semua dapat berjalan sesuai apa yang di kehendaki maka di adakan berbagai peraturan baik dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden, keputusan menteri, keputusan dirjen, sampai dengan kepada keputusan kepala kantor.

  1. II. Nilai

Pelopor nilai etika adalah Max Scheler (1874-1928). Menurut beliau nilai itu tidak ada, melainkan berlaku dan tidak dapat dikembalikan kepada unsur-unsur empiris dunia.rawi.

Nilai-nilai di susun dalam suatu hirarki :

  • Nilai perasaan inderawi.
  • Nilai-nilai hidup.
  • Nilai-nilai rohani, yang dapat di bedakan atas :
  1. Nilai estetis.
  2. Moral
  3. Intelektual.

Kemudian teori Scheler di kembangkan lagi oleh Dietrich Von Hildebrand (1889-1966), dengan mengatakan bahwa kewajiban kita bukan untuk memilih nilai yang tertinggi, melainkan memberikan respons atau jawaban yang semestinya kepada setiap nilai yang berarti secara moral.

Beraneka ragam pendapat tentang pengertian nilai, namun pengertian nilai secara umum dapat di simpulkan bahwa Nilai ialah merupakan kenyataan obyektif dari hal-hal di luar manusia kenyataan obyektif berupa sikap diri manusia.

  1. Jenis nilai dalam eksistensi manusia ialah :
    1. Nilai religius (kekudusan)
      1. Pemujaan (worship), yaitu keberhargaan dalam tindakan manusia yang memiliki sesuatu kepercayaan menyembah Tuhan.
      2. Pengukuhan (affirmation), yaitu suatu perasaan bahwa diri sendiri telah masuk dalam masyarakat religius.
      3. Persaudaraan (fellowship), yaitu perasaan yang diperoleh dari pergaulan dalam kelompok keagamaan.
      4. Kapasitas (assurance), yaitu suatu keyakinan bahwa dibalik dunia fenomena ada Tuhan.
      5. Harapan (hope), yaitu suatu perasaan optimis bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan didunia dan di akhirat, serta sifatnya kekal.
      6. Nilai Etis (Kebaikan)
        1. Berupa kearifan (wisdom), keberanian (courage), pengendalian diri (discipline), dan keadilan (justice).
        2. Kesediaan menolong (benevolence), kemurahan hati (honesty), kesederhanaan (temperance).
      7. Nilai intelektual (kebenaran).
        1. Nilai pengetahuan tentang kebenaran (science truth).
        2. Nilai kebenaran logis ( logical truth).

  1. Nilai Estetis (keindahan).
    1. Kategori-kategori yang agung dan yang elok.
    2. Kategori-kategori yang komis dan yang strategis.
    3. Kategori-kategori yang indah dan yang jelek.
    4. Jenis nilai yang non manusiawi ialah :
      1. Nilai pendidikan (misalnya yang melekat pada sekolah).
      2. Nilai sosial (misalnya persahabatan).
      3. Nilai politik (misalnya kebangsaan).
      4. Nilai ekonomi (misalnya sumber alam).
    5. Nilai mempunyaii hirarki atau jenjang, yaitu :
      1. Nilai religious, artinya nilai yang ada pada Tuhan, menyangkut hal-hal yang kudus, suci, mutlak.
      2. Nilai spiritual, merupakan nilai yang ada pada manusia, yang menyangkut hal-hal kemanusiaan budi pekerti manusia (human values).
      3. Nilai vital, yaitu nilai yang melekat pada semua makhluk hidup, karena mengenai hidup atau pertahanan hidup.
      4. Nilai material, yaitu niali yang melekat pada benda-benda, menurut jenjangnya nilai inilah yang paling rendah karena hanya menyangkut masalah badani.

Etika juga mempersoalkan hak dari setiap lembaga, seperti ; orang tua, sekolah, Negara, untuk memberikan perintah-perintah atau larangan-larangan yang harus di taati. Ini berarti bahwa etika tidak meyakini norma-norma dari lembaga itu, tetapi menuntut pertanggungjawaban.

  • Jadi etika dapat mengantar orang kepada kemampuan bersikap kritis dan rasional untuk membentuk pendapatnya sendiri dan bertindak sesuai dengan apa yang dapat di pertanggung jawabkannya sendiri.
  • Etika membantu orang untuk menjadi lebih otonom dalam mengakui norma-norma.
  • Etika menyanggupkan orang untuk megambil sikap nasional terhadap semua norma, tradisi maupun norma lain.
  • Etika dapat menjadi alat pemikiran rasional dan bertanggung jawab bagi ahli-ahli :

–         Kemasyarakatan.

–         Pendidik.

–         Politikus.

–         Pengarang.

  1. III. Kode Etik

Menurut Drs. D. P. Simorangkir memberi pengertian kode etik adalah kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan yang di tetapkan dan di terima oleh seluruh para anggota sesuatu profesi. Jadi kode etik merupakan suatu etika bersama bagi para anggota organisasi/anggota profesi. Kode etik menitikberatkan pada sanksi, tetapi yang di utamakan adalah ketaatan.

  1. IV. Etika Profesi

Profesi, adalah sautu pekerjaan (vocation) yang mempunyai dasar atau komponen sebagai berikut :

  1. Keahlian (skills).
  2. Tanggung jawab (responsibility).
  3. Kesejawatan (corporateness).

Etika profesi yaitu kaidah-kaidah atau norma-norma yang menjadi dasar pengabdian suatu profesi. Kaidah-kaidah atau noorma-norma itu adalah ditetapkan atas suatu keputusan bersama dalam suatu kongres atau juga ditentukan oleh suatu peraturan hukum.

  1. V. Obyek Etika

Menurut Dr. Frans Von Magnis, etika adalah ccabang filsafat yang menyibukkan dan memfokuskan diri dengan pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan dalam bidang moral, dank arena pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan itu di ungkapkan dalam pernyataan-pernyataan moral.

  1. VI. Obyek Administrasi

Untuk menjelaskan obyek administrasi terlebih dahulu kita mengutifkan definisi administrasi itu sendiri sebagai berikut :

  1. Menurut rumusan Ordway Tead memberi batasan administrasi sebagai kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh pejabat-pejabat eksekutif dalam suatu organisasi, yang bertugas mengatur memajukan dan melengkapi usaha kerja sama sekumpulan orang-orang yang sengaja dihimpun untuk mencapai tujuan tertentu.
  2. Menurut Prof. Dr. SP. Siagian, MPA, memberi definisi administrasi adalah sebagai keseluruhan proses kerja sama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Memperhatikan kedua batasan dari administrasi, maka dapat di kemukakan bahwa etika administrasi adalah manusia yang bekerja sama di dalam suatu organisasi atau lembaga yang mempersoalkan bagaimana seharusnya manusia yang berada dalam organisasi tersebut bertingkah laku sesuai norma atau aturan yang di gariskan dalam administrasi itu (top administrator).

  1. VII. Kewajiban Moral dan Kebebasan

Kewajiban moral adalah bersifat mutlak dan rasional. Dikatakan bersifat mutlak oleh karena kita harus mengambil sikap terhadapnya mau mentaati atau tidak.

Seseorang di katakana bebas apabila kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak di batasi oleh sesuatu paksaan dari atau keterikatan pada orang lain. Faham ini di sebut faham negatif, karena dikatakan hanya bebas dari apa tetapi tidak dikatakan bebas untuk apa. Jadi seseorang dikatakan bebas apabila :

  1. Dapat memilih sendiri tujuannya dan apa yang dilakukannya.
  2. Dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya.
  3. Tidak dipaksa untuk membuat sesuatu yang tidak akan dipilihnya sendiri ataupun di cegah dari berbuat apa yang dipilihnya sendiri, oleh kehendak orang lain, Negara tau kekuasaan apapun.

  1. VIII. Macam-macam Kebebasan

Macam-macam kebebasan terdiri dari :

  1. Kebebasan jasmani/fisik artinya tidak ada paksaan terhadap kemungkinan menggerakkan badan kita, msalnya pergi ke pasar, keluar kota, berolah raga, berteriak, dan lain-lain.
  2. Kebebasan kehendak yaitu kebebasan untuk menghendaki sesuatu, jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemungkinan untuk berpikir, dank arena manusia dapat memikirkan apa saja, ia dapat menghendaki apa saja.

Antara kebebasan kehendak dan kebebasan jasmani ada hubungan erat antara kebebasan jasmani dapat disebabkan oleh kehendak.

  1. Kebebasan moral

Kebebasan moral dalam arti luas adalah dimaksudkan tidak adanya macam-macam ancaman tekanan, dan lain desakan yang tidak sampai berupa paksaan fisik.

Kebebasan dalam arti sempit, adalah kebebasan moral yang berarti tidak adanya kewajiban.

  1. IX. Kebebasan dan Tanggung Jawab

Kebasan adalah kemampuan untuk bertindak dengan tidak adanya paksaan. Bertindak adalah melakukan sesuatu dengan sengaja dan dengan kesadaran. Tanggung jawab terhadap ketaatan pada norma-norma ataupun tanggung jawab pada diri sendiri. Oleh sebab itu kebebasan manusia adalah kebebasan bertanggung jawab. Pada dasarnya tanggung jawab itu dapat di bedakan atas :

  1. Tanggung jawab kelembagaan atau tanggung jawab institusional. Ini dimaksudkan dengan pertanggungan jawab dari setiap warga organisasi kantor/perusahaan/instansi, untuk tetap menjunjung tinggi nama baik dari lembaga/organisasi misalnya : presiden bertanggung jawab kepada majelis permusyawaratan rakyat. Seorang pegawai bertanggung jawab kepada atasan langsungnya.
  2. Tanggung jawab jabatan. Ini dimaksudkan dengan pertanggungan jawab atas jabatan yang di emban oleh seorang pejabat. Dalam praktek sehari-hari, dapat di lihat dengan jelas  pada pejabat-pejabat tinggi; apakah ia berada di rumah, dijalan, atau dikantor segala sesuatu yang di perbuatnya tidak dapat di lepaskan dari pada nama jabatannya.
  3. Tanggung jawab politik yaitu tanggung jawab dalam bidang politik/pemerintahan. Pegawai negeri/karyawan tidak mempunyai pertanggungan politik, maka pertanggungan jawab politiknya kepada partainya, dan bukan kepada pimpinannya. Jadi tanggung jawab politik adalah tanggung jawab atas akibat politik dari keputusan yang di ambil oleh seorang pejabat.
  4. Tanggung jawab atas diri sendiri, keluarga, nama baik, dan lain-lain, ini dimaksudkan bahwa setiap diri seseorang, keluarga harus selalu dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya dimana pun dia berada.
  5. Tanggung jawab keagamaan yaitu dimaksudkan segala macam tindakan atau selalu harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi tidak terkecuali oleh siapapun baik pejabat, pegawai biasa, bawahan maupun para mubalig, pendeta, harus mempertanggungjawabkan tindakan/perbuatannya kepada Allah SWT.
  6. Tanggung jawab professional, yaitu tanggung jawab oleh para profesi dalam menjalankannya profesinya, misalnya seorang dokter, wartawan, dosen, dan lain-lain.
  7. Tanggung jawab hokum, yaitu mengandung arti bahwa pertanggungjawabnya melaui saluran-saluran hokum (diproses, serta persidangan lewat pengadilan).

Menurut Drs. O.P. Simorangkir dalam bukunya Etika Jabatan, mengemukakan cirri-ciri tanggung jawab sebagai berikut tanggung jawab dalam berbagai jabatan dapat di bagi 4 jenis :

  1. Tanggung jawab yang paling seerhana, memerlukan keahlian rendah, hanya membutuhkan keterampilan, misalnya tukang ketik, tukang sapu, tukang pasang moor pada suatu perusahaan ban berjalan (kereta api).
    1. Tanggung jawab dalam hubungannya dengan misi, tujuan, atau hasil yang gemilang. Ini memerlukan suatu pemikiran yang cerdas, memerlukan pendidikan tinggi, keahlian, keterampilan dan pengalaman. Dapat kita ambil contoh jabatan pengacara, dokter, akuntan, dan lain-lain. Hal ini membutuhkan pendidikan tertentu dan pengalaman.
    2. Pekerjaan yang bertanggung jawab dengan cinta kasih antara manusia. Tidak semua pekerjaan membutuhkan cinta kasih.
    3. Pekerjaan yang bertanggung jawab karena panggilan dan cinta terhadap Tuhan.
  2. X. Hubungan Etika dengan Administrasi/Manajemen

Para ahli manajemen memberikan pendapat tentang etika dalam manajemen. G.R. Terry dalam bukunya “principle of management” yaitu manajemen pada hakikatnya adalah berdsarkan pertimbangan-pertimbangan social dan etika. Yang berarti manajemen harus harus berusaha mengembangkan kehidupan masyarakat serta kesejahteraan masyarakat dalam bentuk produksi untuk masyarakat.

Menurut Terry memberi semboyan, pegawai yang baik dan warga Negara yang baik adalah sinonim. Terry menyimpulkan bahwa dalam kehidupan manajemen, perlu di perhatikan tentang prinsip-prinsip etika yaitu bahwa etika yang pantas dalam manajemen adalah menghendaki seorang manajer yang mengasihi diri seniri dan masyarakatnya sebagaimana ia ingin di hormati oleh para pegawainya atau karyawannya.

Menurut G.R. Terry, memberikan unsure-unsur keberhasilan seorang top manajer, antara lain :

  1. Mengetahui secara lengkap tentang jawatan kita.
  2. Harus dapat menyesuaikan keadaan terhadap jawatan.
  3. Mengetahui hasil yang di capai oleh jawatan dan bagaimana mengemukakannya sesuai dengan waktu yang efektif.
  4. Bagaimana mengajak langganan untuk berhasil secara memuaskan, dalam arti kita meningkatkan spesialisasi para bawahan atau langganan.
  5. Perlakuan bawahan atau karyawan anda seacara hormat, sebagaimana anda ingin di perlakukan.
  6. Perlakukan dengan hormat terhadap siapa saja engkau membeli sebagaimana engkau menjual.
  7. Berdamailah dengan diri sendiri.

  1. XI. Ukuran Etika

Ukuran etika adalah ukuran tentang apa yang benar dan apa yang salah (baik atau buruk) bukanlah sesuatu ukuran yang bersifat eksak, karena benar atau salah adalah sesuatu yang kualitatif dan relative.

ETIKA ADMINISTRASI

SEBAGAI BAGIAN DARI ETIKA SOSIAL

Kita ketahui bersama bahwa administrasi adalah cabang ilmu pengetahuan social, di samping itu adiministrasi sendiri ada, oleh karena manusia.

Hanya manusia yang dapt beradministrasi (administrasi adalah oleh manusia, untuk manusia) karena manusia ada dalam masyarakat maka administrasi juga berada dalam masyarkat. Oleh karena itu administrasi tidak dapat dipisahkan masyarakat dan Negara, dimana administrasi itu d praktekkan.

Menurut Prof. S.P. Siagian mengatakan bahwa tidak ada suatu organisasi yang merupakan pulau di lautan social yang dapat mengabaikan apa yang terjadi di sekililingnya.

Dengan demikian maka setiap organisasi/administrasi adalah merupakan sub system dari sistim sosial Negara, bangsa dan masyarakat secara keseluruhan. Itulah sebabnya sehingga niali-nilai yang di anut oleh masyarakat, dan juga dapat di hubungkan dengan tujuan akhir bangsa dan Negara yang bersangkutan.