BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesame serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.

Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.

Mc. Gregor menyatakan bahwa setiap manusia merupakan kehidupan individu secara keseluruhan yang selalu mengadakan interaksi dengan dunia individu lainnya. Apa yang terjadi dengan orang tersebut merupakan akibat dari perilaku orang lain. Sikap dan emosi dari orang lain mempengaruhi orang tersebut. Bawahan sangat tergantung pada pimpinan dan berkeinginan untuk diperlakukan adil. Suatu hubungan akan berhasil apabila dikehendaki oleh kedua belah pihak.

Tema kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Hal ini mengindikasikan bahwa paradigma kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan memiliki kompleksitas yang tinggi.

Setiap permasalahan kepemimpinan selalu meliputi 3 (tiga) unsure yang terdiri dari : Unsur manusia : yaitu manusia yang melaksanakan kegiatan memimpin atas sejumlah manusia lain atau manusia yang memimpin dan manusia yang dipimpin. Unsur sarana: yaitu Prinsip dan Teknik Kepemimpinan yang digunakan dalam pelaksanaan Kepemimpinan, termasuk bakat dan pengetahuan serta pengalaman pemimpin tersebut. Unsur tujuan. Secara normatif, keberhasilan kepemimpinan akan sangat tergantung kepada tiga unsur tersebut yang meliputi : syarat, watak, ciri, gaya, sifat, prinsip, teknik, asas dan jenis kepemimpinan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kepemimpinan.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :

  • Sebagai bahan survey dan analisis mengenai pola pelaksanaan kepemimpinan dalam masalah kesehatan bagi para Pembuat kebijakan Kesehatan.
  • Agar teman-teman mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan kesehatan dalam otonomi daerah di Era Globalisasi.

Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh ialah:

  • Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan dasar pengambilan keputusan kebijakan kesehatan
  • sebagai materi pokok dalam menyusun penelitian yang terkait.

1.3 Permasalahan

Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan yang penulis dapatkan. Permasalahan tersebut antara lain :

  • Bagaimana hakekat  menjadi seorang pemimpin?
  • Bagaimana pola penentuan kebijakan oleh pemimpin dalam rangka pelaksanaan Otonomi daerah?

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kepemimpinan

Dalam pembahasan berbagai literatur antara kepemimpinan dan pemimpin seringkali dibahas secara bersamaan dan seringkali susah dibedakan antara keduanya. Sebelum membahas lebih jauh tentang kepemimpinan, maka terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi tentang pemimpin. Menurut Robert Roy dalam Siagian, (1991:51) pemimpin adalah orang yang mampu menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan, menurut Kartini Kartono, (1992 : 3) pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kemampuan akan kelebihan khususnya disatu bidang sehingga ia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

Kemudian menurut Sadly (1990:57) mengemukakan bahwa pemimpin can kepemimpinan merupakan dua istilah yang biasa dibedakan tetapi sama sekali tidak dapat dipisahkan, kedua-duanya dapat diumpamakan sebagai dua sisi mata uang yang sama. Pemimpin pengacuh pada orangnya/manusianya, sedangkan kepemimpinan terutama mengacuh pada sifat, gaya, perilaku dan seni. Seorang pemimpin dapat saja memiliki beberapa gaya kepemimpinan, namun demikian senantiasa pada diri seseorang pemimpin akan nampak gaya kepemimpinan yang paling menonjol.

Apabila suatu organisasi berjalan dengan lesu, orang sering mempersoalkan kepemimpinannya, memang jika kepemimpinan tidak tampak, sering dikatakan bahwa organisasi itu tidak mempunyai pemimpin. Kehadiran seseorang pemimpin dalam suatu organisasi ialah untuk menggerakkan orang-orang dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Kepemimpinan sulit didefinisikan secara tepat. Oleh karena itu, banyak pakar mencoba memperkenalkan defenisinya sesuai versi masing-¬masing. Misalnya, John priffner dalam Miftah Thoha (1994:46) memberikan defenisi kepemimpinan sebagai berikut : “kepemimpinan adalah seni untuk mengkoordinasikan dan memberikan dorongan terhadap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang di inginkan”

Pendapat lain tentang definisi kepemimpinan dikemukakan oleh Dalton Mc. Farland dalam Sutarto (1995:43) memberikan defenisi sebagai berikut: “kepemimpinan adalah sebagai suatu proses dimana pimpinan di gambarkan akan memberikan perintah/pengarahan, bimbingan atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Disamping itu Kapur (1994), mengemukakan pengertian kepemimpinan sebagai berikut : “kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi orang-orang lain dalam m kelompok agar bertindak untuk mencapai tujuan bersama”.

Howard H.Hoyt dalam Kartono (1983;49) mengemukakan bahwa Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingka laku manusia dalam memiliki kemampuan untuk membimbing. kemudian menurut George R.Terry dalam Kartono (1983 ;15) menyatakan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah sebagai berikut : ” Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan¬tujuan kelompok.”

Berdasarkan uraian tentang kepemimpinan yang telah dikemukakan di atas, maka secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses penerapan dan penggunaan kemampuan, kekuasaan dan wewenang seorang pemimpin dalam usaha untuk mengorganisir, menetapkan kebijaksanaan, mengambil keputusan dan memiliki kemampuan mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam kelompoknya.

Dengan demikian unsur penting yang menonjol dalam kepemimpinan adalah:

  • Adanya sesuatu yang “lebih” pada diri seorang pemimpin
  • Adanya kelompok orang yang menjadi pengikut,
  • Adanya proses kerjasama dalam menjalankan aktivitas,
  • Adanya tujuan yang ingin dicapai.

2.2 Konsep Otonomi Daerah

Undang-undang No.22 tahun 1999 mensyaratkan pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah, bagi penyelenggaraan pemerintahan di daerah dengan titik berat pada daerah kabupaten. Secara etimoiogis kata desentralisasi berasal dari bahasa latin, yaitu De yang berarti lepas, dan Centrum yang berarti pusat.

LEBIH LENGKAPNYA SILAHKAN DOWNLOAD DISINI