BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Balita merupakan singkatan bawah lima tahun, salah satu periode usia manusia dengan rentang usia dua hingga lima tahun. Ada juga yang menyebut dengan periode usia prasekolah. Pada fase ini, anak berkembang dengan sangat pesat.

Setiap orang tua tentunya menginginkan anaknya menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan kuat. Karenanya, memberikan yang terbaik untuk anak adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu orang tua harus memahami tumbuh kembang tubuh dan otak anaknya, terutama pada masa balita.

Pada periode ini, balita memiliki ciri khas perkembangan sebagai berikut :
Perkembangan fisik: Di awal balita, pertambahan berat badan menurun disebabkan banyaknya energi untuk bergerak. Perkembangan psikologis:Dari sisi psikomotor, balita mulai terampil dalam pergerakannya (lokomotion), seperti berlari, memanjat, melompat, berguling, berjinjit, menggenggam, melempar yang berguna untuk mengelola keseimbangan tubuh dan mempertahankan rentang atensi.

Pada akhir periode balita kemampuan motorik halus anak juga mulai terlatih seperti meronce, menulis, menggambar, menggunakan gerakan pincer yaitu memegang benda dengan hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari seperti memegang alat tulis atau mencubit serta memegang sendok dan menyuapkan makanan kemulutnya, mengikat tali sepatu.

Dari sisi kognitif, pemahaman terhadap obyek telah lebih ajeg. Kemampuan bahasa balita bertumbuh dengan pesat. Pada periode awal balita yaitu usia dua tahun kosakata rata-rata balita adalah 50 kata, pada usia lima tahun telah menjadi diatas 1000 kosakata. Pada usia tiga tahun balita mulai berbicara dengan kalimat sederhana berisi tiga kata dan mulai mempelajari tata bahasa dari bahasa ibunya.

Balita juga mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan sosial diluar keluarga, Balita mulai memahami dirinya sebagai individu yang memiliki atribut tertentu seperti nama, jenis kelamin, mulai merasa berbeda dengan orang lain dilingkungannya.

  1. TUJUAN

Tujuan penyusunan makalah ini adalah

  1. Untuk mengetahui nutrisi penting apa saja yang diperlukan balita di masa golden years
  2. Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi sifat pemalu pada anak
  3. Untuk mengetahui bagaimana cara meningkatkan kecerdasan balita
  4. Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi dan mengarahkan anak hiperaktif
  5. Untuk mengetahui bagaimana cara mengajar balita membaca
  1. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

  1. Nutrisi penting apa saja yang diperlukan balita di masa golden years ?
  2. Bagaimana cara mengatasi sifat pemalu pada anak ?
  3. Bagaimana cara meningkatkan kecerdasan balita
  4. Bagaimana cara mengatasi dan mengarahkan anak hiperaktif ?
  5. Bagaimana cara mengajar balita membaca ?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. ARTIKEL I

NUTRISI PENTING DI MASA GOLDEN YEARS

Lima tahun pertama merupakan masa terpenting dalam kehidupan manusia, inilah yang disebut masa emas. Pada masa ini, perubahan dalam kemampuan terbesar terjadi pada balita, termasuk pertumbuhan otak yang paling pesat, setelah itu pertumbuhan otak akan menurun seiring dengan bertambahnya umur.

Secara umum untuk tumbuh kembang anak, termasuk pertumbuhan dan perkembangan otak pada masa emas diperlukan zat gizi makro (karbohidrat, lemak dan protein) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Khusus untuk pertumbuhan otak, lemak, terutama asam-asam lemak tak jenuh (polyunsaturated fatty acid = PUFA) seperti omega 3 dan omega 6 yang merupakan bahan baku pembungkus serabut saraf dalam otak, juga sangat dibutuhkan.

Selain itu, protein merupakan zat gizi yang berfungsi sebagai zat pembangun. Dalam kaitannya dengan proses kerja otak, protein, terutama dalam bentuk asam amino seperti glisin, glutamate, dan tryptophan, sangat diperlukan membentuk neurotransmitter penghantar impuls saraf. Sedangkan vitamin berfungsi meningkatkan metabolisme tubuh, menjaga daya tahan serta membantu kelancaran proses metabolisme lain di dalam tubuh. Kelompok vitamin B kompleks (B1, B2, B6, B12 dan asam folat) diperlukan guna pembentukan neurotransmiter. Mineral yang penting dalam membantu meningkatkan kecerdasan berfikir pada masa emas, adalah  zat besi (Fe) dan Iodium. Kekurangan zat besi dalam tubuh menyebabkan kemampuan pengangkutan oksigen untuk sel-sel darah merah ke seluruh tubuh termasuk ke organ otak berkurang. Sedangkan Iodium diperlukan untuk kerja kelenjar tiroid yang menghasilkan hormon tiroksin yang mengontrol laju metabolisme.

Untuk memenuhi zat gizi, Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang pertama dan utama bagi anak usia 0-6 bulan. Komposisi zat gizi ASI sangat ideal untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Namun, setelah usia 6 bulan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, ASI saja tidak lagi mencukupi kebutuhan gizi, oleh karena itu anak harus diberikan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu). Namun Air Susu Ibu sebaiknya anak tetap diberi ASI hingga usia dua tahun.

Jika balita minum susu, khususnya susu pertumbuhan untuk anak, harus dipersiapkan secara higienis dan tidak merusak kandungan gizi di dalamnya. Untuk menyeduh susu, panaskan air hingga mendidih (80—100 derajat celsius) lalu dinginkan hingga suhu hangat (suam-suam kuku) dan air dapat digunakan untuk menyeduh susu. Jika susu digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat makanan maka sebaiknya jangan dipanaskan terlalu lama dalam suhu tinggi, karena hal tersebut dapat merusak kandungan gizi dalam susu terutama protein, vitamin dan asam lemak omega 3 dan omega 6.

http://ibudanbalita.com/pojokcerdas/berikan-nutrisi-dan-stimulasi-terbaik-pada-masa-emas-perkembangan-otak-golden-years

B. ARTIKEL 2

CARA MENGATASI SIFAT PEMALU PADA BUAH HATI

Banyak orang tua merasa khawatir saat menghadapi perilaku anaknya yang cenderung pemalu, seringkali sang buah hati cenderung merasa minder dan menemui kesulitan saat harus bersosialisasi dalam bermasyarakat.
Rasa malu dan minder memang kerap kali disamaratakan, hingga sebagian dari orang tua pun sulit membedakan apakah buah hati mereka termasuk golongan anak pemalu ataukah anak yang minder.Sebelum mengupas lebih lanjut mengenai cara mendidik anak untuk mengatasi rasa malu yang berlebihan, ada baiknya dijabarkan terlebih dahulu perbedaan antara pemalu dan minder. Karakter pemalu adalah bawaan lahir yang melekat pada seorang anak dan bisa jelas terlihat sejak seorang masih bayi atau balita. Sedangkan minder atau rendah diri muncul karena bentukan sosial. Sifat pemalu akan bertambah bila anak jarang diajak bersosialisasi oleh orang tuanya. Sebaliknya karakter ini pun bisa dilunakkan oleh lingkungan mesti tak akan hilang seluruhnya.

Namun untuk itu diperlukan upaya serius dari kedua orang tua dengan melalui berbagai cara berikut :

  1. Cari tau sumber penyebab rasa malu
    Perhatikan di mana buah hati sering merasa malu dan menarik diri; di sekolah? di sekitar rumah? Atau hampir di setiap kesempatan di luar rumah? Umumnya, anak memerlukan bimbingan interaksi sosial, khususnya tentang percakapan umum dengan lingkunganya.
  2. Berikan contoh perilaku yang baik saat bersosialisasi
    Berilah contoh, seperti memulai ucapan salam dan menjabat tangan saat bertemu dengan orang lain. Jangan lupa memperkenalkan mereka dengan buah hati, bila ia belum mengenal mereka. Jangan pernah meremehkan orang lain didepan anak atau berlalu dihadapan tanpa mengucapkan permisi.
  3. Ajarkan tehnik sosialisasi
    Undanglah kerabat atau teman bermain yang seusia buah hati, lalu tunjukkan caranya memperlakukan teman atau tamu dengan baik.
  4. Ajarkan untuk berani mengambil resiko
    Buah hati yang pemalu ummnya mudah merasa cemas, takut salah, takut ditertawakan, takut menyinggung orang lain dan lain-lain. Ajarkanlah untuk tidak terlalu mencemaskan hal-hal tersebut, selama tidak merugikan dirinya dan orang lain.
  5. Bantu proses perubahan secara bertahap
    Tentu saja tak mungkin berharap perilaku anak pemalu dapat berubah dalam waktu singkat. Ingatkan ia pada prinsip awal.
  6. Bantulah memilih bakat atau hobi yang sesuai minatnya
    Biasanya anak pemalu cepat mengambil kesimpulan yang kadang digeneralisir. Misalnya setelah mencoba bulutangkis dan dia tidak suka anak bisa mengambil kesimpulan saya tidak suka olahraga. Maka bersabarlah dalam menggali bakat dan hobinya.
  7. Bantulah ia menata emosi
    Beri rasa nyaman bagi perasaannya, sebab umumnya anak pemalu sangat sensitif dan mudah putus asa.
  8. Ajarkan toleransi dan menghargai orang lain
    Beri pengertian bahwa setiap orang belum tentu melakukan hal-hal yang benar. Hal ini bisa dimulai orang tua dengan mentolerir kesalahan buah hati dan tetap memberikan penghargaan terhadap dirinya.
  9. Mintalah bantuan tenaga ahli
    Bila berbagai upaya sudah dilakukan, namun belum ada perubahan kearah yang positif, maka cobalah mencari bantuan ahlinya.

http://www.infobunda.com/pages/articles/artikelshow.php?id=135&catid=9

C. ARTIKEL 3

“MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK BALITA DENGAN CEPAT DAN PASTI “

TIPS AMPUH UNTUK ORANGTUA YANG KEDUANYA BEKERJA

0leh : Taufan Surana

Jika anda masih ingat dengan hasil penelitian terbaru yang dimuat di website http://www.balitacerdas.com, disitu ditulis :”TIGA TAHUN PERTAMA dalam kehidupan anak merupakan masa yang paling sensitif, yang akan sangat menentukan perkembangan otak dan kehidupannya di masa mendatang.”

Mengapa begitu ?

Bagian terpenting tubuh kita, yaitu otak, tumbuh dengan sangat pesat pada awal kehidupan, dan akan mencapai 70-80% pada 3 tahun pertama. Bayangkan, Otak yang begitu penting ini ternyata sebagian besar ditentukan pada awal kehidupan kita. Saya sempat shock membaca hasil penelitian ini. Artinya, jika anda menginginkan anak anda tumbuh dengan kondisi yang terbaik, maka anda harus menginvestasikan waktu dan apapun pada 3 tahun pertama ini, lebih dari waktu yang lain. Jika anda mengabaikan begitu saja rentang waktu 3 tahun pertama ini, maka anak anda tidak akan berkembang dengan maksimal, dan anak anda akan menjadi anak yang biasa-biasa saja.

Apakah itu yang anda inginkan ? Tentu saja tidak !

Jika kita sebagai orangtua bisa melakukan yang terbaik bagi anak, maka itulah kewajiban kita untuk memberikan hak anak kita. Di buku berbahasa Jepang yang berjudul “Anak Cerdas dengan IQ 200 Ditentukan oleh ibunya”, dicantumkan hasil interview terhadap banyak sekali ibu yang berhasil mendidik anaknya menjadi sangat cerdas sekali. Intinya, peran ibu yang benar pada 3 tahun pertama akan sangat menentukan kecerdasan anaknya. Maksud kata yang “benar” disini, tidak ada hubungannya apakah sang ibu tersebut bekerja ataukah sebagai ibu rumah tangga secara full-time.

Disini saya akan sampaikan tips yang sangat ampuh yang harus dilakukan oleh ibu, terutama ibu yang bekerja karena waktu bersama dengan anak sangat terbatas. Tetapi sebenarnya juga perlu diperhatikan oleh ibu rumah tangga yang full-time, karena biasanya, karena merasa punya waktu banyak dengan anak, tetapi justru tidak segera dilakukan dengan konsisten.

TIPS PERTAMA

Berikan waktu 1 jam khusus untuk setiap harinya, tanpa boleh diganggu gugat oleh kegiatan lain, untuk anak anda untuk berinteraksi dengan kegiatan yang efektif bagi perkembangan kecerdasannya. Untuk memberikan gambaran yang nyata, saya terjemahkan saja garis besar salah satu hasil wawancara di buku yang saya sebutkan diatas tadi. Seorang ibu yang sekaligus wanita karir yang bernama Sakane berhasil mendidik anaknya, Akio (3 th 5 bln) mencapai IQ 198. (catatan : IQ rata-rata anak pada umumnya adalah 90 s.d. 109). Sebagai seorang wanita karir, Ms. Sakane terpaksa harus menitipkan Akio di Tempat Penitipan Anak sejak usia 3 bulan, dari pagi dan dijemput jam 5:30 sore. Tiba di rumah biasanya sekitar jam 6 lebih. Setelah itu, sebelum menyiapkan makan malam pada jam 7:30, Ms. Sakane memberikan waktu khusus selama 1 jam kepada Akio untuk melakukan program pendidikan anak.

Ms. Sakane bercerita : “Karena saya bekerja, waktu 30 menit sebelum membawa Akio ke TPA dan 1 jam setelah pulang ke rumah merupakan waktu yang sangat berharga. Waktu 1 jam ini, jika saya melakukan hal-hal lain yang bermacam-macam akan menjadi waktu yang hilang begitu saja. Tetapi waktu 1 jam ini saya tentukan khusus untuk Akio, tanpa melakukan hal lain apapun juga. Saya gunting gambar-gambar binatang dan gambar yang menarik lainnya dari buku/ majalah, kemudian saya buat kartu bergambar dan saya tunjukkan kepada Akio satu-per-satu.

Pada awalnya saya berpikir, apakah ada artinya saya mengajarkan hal-hal kecil ini. Tapi, karena saya pernah mendengar bahwa hal ini sangat baik untuk “olah raga” otak, maka saya teruskan juga. Anak saya sepertinya sangat senang sekali melihat gambar yang berubah dengan cepat dan terus-menerus, dia melihatnya dengan sungguh-sungguh. Pada awalnya saya khawatir apakah hal ini ada hasilnya, tetapi begitu Akio mulai bisa bicara, saya menjadi yakin dan berpikir, ” Oo.. ternyata dia mengerti !”. Setelah itu saya perkenalkan dengan “DOTS CARD” (kartu untuk belajar berhitung), dan menjadi mahir berhitung tambah-kurang-kali-bagi. Sekarang Akio sudah mulai bisa perhitungan “akar” dan persamaan tingkat tinggi. Sayapun menjadi bangga kepada diri saya sendiri. Sekarang, jika saya pulang, dia langsung membawa dots card dan berkata, “Mainan ini yoook….” Dari situ kita bisa melihat bahwa jika waktu yang sebentar itu hanya untuk bermain yang tidak jelas, maka waktu tersebut akan hilang begitu saja. Dengan hal-hal seperti diatas, akan besar sekali manfaat yang diperoleh oleh anak kita.

Pengalaman saya sendiri, setelah beberapa bulan menerapkan hal yang sama kepada kedua anak saya, Rihan (4 tahun) dan Afi (1 tahun  4 bulan), hasilnya cukup mulai kelihatan. Rihan sudah sangat lancar membaca Bahasa Jepang (huruf Hiragana dan Katakana) sejak usia 3 tahun. Untuk Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, kelihatan berkembang dengan lebih baik berkat penerapan kartu bergambar tersebut (istilah populer dalam pendidikan anak adalah FLASH CARD). Sedangkan Afi, walaupun belum bisa berbicara, sudah kelihatan sekali senang dengan huruf dan buku. Bangun tidur pagi, dia biasanya langsung mengambil bukunya untuk minta dibacakan ataupun dia lihat-lihat sendiri. Kelihatan sangat lucu sekali melihat anak seusia Afi “membaca” buku sendiri sambil kadang-kadang mengeluarkan suara yang bermacam-macam.

Jadi, jika anda belum melakukan hal yang sama, segera anda lakukan permainan ini kepada anak anda. Cukup  hanya 1 jam sehari, tetapi pengaruhnya sangat luar biasa dan ini sudah terbukti.  Di buku yang saya sebutkan di atas dikatakan bahwa saat ini di Jepang sedang terjadi “Revolusi Secara Diam-Diam” dalam pembelajaran anak usia dini ( 0-3 tahun ). Dan sayapun merasakannya dengan melihat semakin banyaknya masalah pembelajaran usia dini dibahas di media massa. Selain itu, di grup 4 tahun sekolahnya Rihan (selevel TK A di Indonesia), semuanya sudah lancar membaca. Jika kita tidak segera melakukan hal yang sama kepada anak-anak kita, akan semakin tertinggallah bangsa kita ini. Marilah kita ikut mencerdaskan generasi masa depan kita dengan dimulai dari keluarga kita sendiri.

TIPS KEDUA

Untuk para orangtua yang bekerja, anda perlu memonitor dan memberikan pengarahan yang benar kepada babysitter atau siapa saja yang mengasuh anak anda tentang kegiatan yang perlu dilakukan oleh anak anda selama anda tidak di rumah.

Buatlah daftar kegiatan anak anda dengan jelas, sehingga babysitter anda tahu apa yang harus dilakukan setiap harinya dalam hal kegiatan yang mampu memberikan stimulasi pada perkembangan kecerdasan anak, baik kecerdasan intelektual, emosi maupun perkembangan fisik dan sosialnya. Jangan sampai babysitter anda hanya bertugas menjaga saja, tanpa memberikan stimulasi-stimulasi yang sangat diperlukan oleh anak anda. Akan sangat kasihan sekali anak anda nantinya, jika lingkungannya di masa yang sangat haus akan stimulasi ini ternyata tidak memberikan haknya yang akan menjadi harta yang paling berharga di masa depan.

Cara yang pernah kami lakukan ternyata sangat efektif dan mudah diikuti oleh babysitter kami dulu. Sayangnya, cara pembuatan daftar tersebut tidak bisa dijelaskan dengan baik melalui newsletter ini, karena diperlukan gambar tabel kegiatan. Jika anda mempunyai eBook “3 Tahun Pertama yang Menentukan”, saya anjurkan sekali untuk segera menerapkan cara kami tersebut, seperti yang dijelaskan di bagian “Memilih Pengasuh Anak yang Berkualitas”, yang merupakan salah satu dari “10 Tindakan Penting untuk Merangsang Perkembangan Otak Anak”. Jika anda belum punya eBook “3 Tahun Pertama yang Menentukan”, saya anjurkan sekali untuk segera mendapatkannya, karena informasi yang tersedia sangat penting untuk diterapkan demi masa depan anak anda.

Ingatlah selalu, waktu terpenting dalam kehidupan anak anda terus berjalan dengan cepat. it’s now or never ! Selamat menerapkan tips diatas dengan konsisten setiap harinya.

http://www.balitacerdas.com/kembang/cerdas.html

D. ARTIKEL 4

MENGARAHKAN ANAK HIPERAKTIF

Ada dua ketakutan kaum ibu menyangkut anaknya, autis dan hiperaktif. Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya “kecerdasan yang luarbiasa”.

Mengelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak. Anak hiperaktif memang selalu bergerak, nakal, tak bias konsentrasi. Keinginannya harus segera dipenuhi. Mereka juga kadang impulsive atau melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Gangguan prilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun.
Anda cemas dan gugup? Tentu, tapi jangan takut. Kami punya resepnya.

1) Periksalah

Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap anda agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Disini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.

2) Pahamilah.

Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya,
frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.

3) Latih Kefokusannya.

Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatak. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu,jangan berikan dia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.

4) Telatenlah.

Jika dia telah “betah” untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.
Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka “0” dengan benar.

Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus “bekerjasama” dengan dia.

5) Bangkitkan Kepercayaan Dirinya.

Jika mampu, ini juga bias dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan  disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.

Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri
dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.

Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga
dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.

6) Kenali Arah Minatnya.

Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini

.Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi
aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.

7) Minta Dia Bicara.

Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya.

Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan.

“Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu.
Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati,” ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.

8) Siap Bahu-Membahu.

Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.

Nah, itulah dasar-dasar pengelolaan jika anak Anda mengidap hiperaktif.
Dia tak berbahaya, hanya butuh sentuhan perhatian lebih. Jika itu dia dapatkan, anak Anda akan berubah jadi jenius yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia.

sumber: CyberNews Suara Merdeka
http://www.balitacerdas.com/perilaku/hiperaktif.html

E. ARTIKEL 5

MENGAJAR BALITA MEMBACA

March 12th, 2010 admin

Kemampuan membaca merupakan fungsi tertinggi dari otak manusia. Mengajar balita membaca bukan sesuatu yang mustahil. Glenn Doman, pendiri The Institutes of The Achievement of Human Potential mengatakan, para orang tua dapat meningkatkan kemampuan belajar anak, melipatgandakan pengetahuan yang diserap, bahkan potensinya. Orang tua juga perlu memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya karena pada dasarnya balita senang belajar dan menyemangatinya.

Tak perlu cemas bila Anda bukan termasuk orang tua yang cerdas. Balita cerdas tak mutlak berasal dari orang tua yang cerdas. Seorang peneliti, Dr. Bernard Devlin, mengatakan, faktor genetik memiliki peran 48 persen dalam membentuk IQ anak, selebihnya dipengaruhi oleh zat gizi dan stimulasi. Pertumbuhan otak berlangsung pesat, berbeda pada setiap anak, tergantung nutrisi yang dikonsumsi dan stimulasi yang diberikan terutama pada masa emas (golden age) 0-3 tahun. Mereka yang mendukung hothousing (pendidikan super dini) termasuk Glenn Doman, menganjurkan untuk menstimulus balita sejak dilahirkan.

Salah satu bentuk stimulasi yang baik adalah mengajar balita Anda membaca. Program pelajaran dapat dimulai sejak dini. Usia kurang dari satu tahun adalah saat ideal untuk memulai apabila orang tua ingin menghemat waktu dan tenaga untuk mengajar anak membaca.

Irene F Mongkar, pembicara pada acara Smart Parents Conference yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) akhir Juli lalu mengatakan, sikap yang penting dalam kegiatan belajar mengajar, baik orang tua maupun anak, adalah hati yang riang gembira. Andai ada salah satu yang suasana hatinya tidak baik, sebaiknya tunda dulu kegiatan belajar membaca ini.

Sebagai alat bantu digunakan kartu-kartu berukuran besar. “Kami menyebutnya flashcards karena ditunjukkan bergantian secara cepat (satu detik per kartu), sambil ucapkan dengan suara dan mimik muka yang menarik. Ekspresif dalam mengajar membuat balita Anda tertarik,” jelas Irene. Sebagai pengajar, orang tua sedapat mungkin menjadi pusat perhatian sang balita. Matikan radio dan televisi yang dapat membuat perhatian balita teralih. Dan hentikan pelajaran sebelum balita Anda bosan.

Irene yang sudah dua kali mengikuti kursus di Institute for The Achievement of Human Potential milik Glenn Doman mengatakan, orang tua tidak perlu berambisi dalam mengajar apalagi menentukan target. Belajar adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan membosankan. “Kita akan kagum akan kecepatan balita dalam mengerti bahasa karena pada dasarnya balita adalah linguistic geniuses (jenius bahasa).

Ia juga menekankan untuk tidak menguji balita. Cukup ajarkan terus-menerus secara konsisten. Mengajar adalah memberi, sedangkan menguji berarti meminta upah. Perbanyak kosakata setiap harinya. Pengulangan materi yang sama membuat balita jenuh dan menurunkan minatnya pada pelajaran membaca. Jangan lupa tunjukkan rasa senang Anda ketika pelajaran ini selesai dengan cara memuji, memeluk dan menciumnya.

Proses belajar membaca ini melatih indra penglihatan, indera pendengaran, dan terutama merangsang terjalinnya hubungan antar sel-sel otak (sinaps), yang membuat balita cerdas. Untuk menerapkan metode Glenn Doman, orang tua bisa mencoba panduan berikut ini. Siapkan lima belas buah kartu berukuran besar (15×50 cm) bertuliskan kata-kata tunggal dengan huruf cetak. Tulisan harus rapi dan jelas, gunakan spidol berwarna merah agar mudah dilihat balita. Lalu susun kartu menjadi 3 kategori (tiap kategori terdiri dari lima kartu). Misal, kategori A untuk nama anggota keluarga, kategori B nama-nama anggota tubuh, dan kategori C nama-nama hewan.

Pada hari pertama, tunjukkan lima kartu kategori A sambil bacakan dengan cepat. Lakukan tiga kali sehari. Hari kedua, bacakan kartu kategori A dan B dengan selang 15 menit, juga lakukan tiga kali sehari. Hari ketiga, bacakan kartu kategori A, B, dan C dengan aturan yang sama. Jika ingin menambahkan kategori, lakukan pada hari keempat dan kelima. Mulai pensiunkan kartu satu per satu dari kategori yang sudah dipelajari. Begitu seterusnya. Sedangkan untuk tahapan belajar membaca dimulai dari kata-kata tunggal kemudian gabungan dua kata, kalimat singkat, kalimat panjang dan terakhir membaca buku.

Meski sudah banyak orang tua yang berhasil mengajar balitanya membaca dengan teknik Glenn Doman, ada pula yang memilih berpendapat lain. Kontra terhadap metode Glenn Doman bahkan dimuat dalam film berjudul Smart Babies dari Discovery Health Channel. Film yang merupakan hasil penelitian para ahli yang melibatkan psikiater, ahli neurologi, psikolog anak, pendidik anak, mementahkan teori Glenn Doman.

Melalui berbagai riset dan fakta ilmiah membuktikan bahwa sinapsis, yang katanya tumbuh pesat di usia dini, ternyata terus berkembang seumur hidup artinya proses pembelajaran bagi seseorang tidak pernah berhenti selama ia hidup. Dan banyaknya sinapsis tidak berarti lebih cerdas, karena secara alamiah jumlah sinapsis akan dirampingkan saat orang beranjak dewasa.

Dibuktikan pula, pada usia balita yang terpenting adalah pengembangan sensomotoriknya (panca indera dan otot-otot gerak). Balita yang kurang bermain di usia kritis akan lebih “bodoh” daripada yang banyak bermain karena pada usia kritis mereka lebih banyak belajar lewat panca indera/pengalaman daripada latihan memori/logika. Periode kritis 0-5 tahun bukanlah soal baca-tulis, kemampuan berpikir balita masih pra-operasional sehingga yang harus diberikan adalah sesuatu yang konkret, nyata, dialami, dan dirasakan.

Meski teorinya sarat kontroversi, Glenn Doman sudah membuktikan keberhasilannya mengajar membaca (dan matematika) anak-anak dengan cedera otak misalnya penderita autis, speech delayed, epilepsi, atau gangguan pemograman otak. Dengan metodenya, ia melakukan pemrograman ulang agar balita dengan cedera otak dapat menyerap pelajaran sebagaimana balita normal.

March 12th, 2010 admin,

Sumber: beritaindonesia http://balitakita.com/mengajar-balita-membaca-5/

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN
    1. Lima tahun pertama merupakan masa terpenting dalam kehidupan manusia, inilah yang disebut masa emas. Pada masa ini, perubahan dalam kemampuan terbesar terjadi pada balita, termasuk pertumbuhan otak yang paling pesat, setelah itu pertumbuhan otak akan menurun seiring dengan bertambahnya umur. Secara umum untuk tumbuh kembang anak, termasuk pertumbuhan dan perkembangan otak pada masa emas diperlukan zat gizi makro (karbohidrat, lemak dan protein) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Khusus untuk pertumbuhan otak, lemak, terutama asam-asam lemak tak jenuh (polyunsaturated fatty acid = PUFA) seperti omega 3 dan omega 6 yang merupakan bahan baku pembungkus serabut saraf dalam otak, juga sangat dibutuhkan.
    2. Upaya serius yang diperlukan orang tua untuk mengatasi sifat pemalu pada anak yaitu : cari tau sumber penyebab rasa malu, berikan contoh perilaku yang baik saat bersosialisasi, ajarkan tehnik sosialisasi, ajarkan untuk berani mengambil resiko, bantu proses perubahan secara bertahap, bantulah memilih bakat atau hobi yang sesuai minatnya, bantulah ia menata emosi, dan ajarkan toleransi dan menghargai orang lain, serta mintalah bantuan tenaga ahli.
    3. Cara meningkatkan kecerdasan anak balita dengan cepat dan pasti ada 2 cara yaitu pertama, berikan waktu 1 jam khusus untuk setiap harinya, tanpa boleh diganggu gugat oleh kegiatan lain, untuk anak anda untuk berinteraksi dengan kegiatan yang efektif bagi perkembangan kecerdasannya. Untuk para orangtua yang bekerja, anda perlu memonitor dan memberikan pengarahan yang benar kepada babysitter atau siapa saja yang mengasuh anak anda tentang kegiatan yang perlu dilakukan oleh anak anda selama anda tidak di rumah. Kedua, buatlah daftar kegiatan anak anda dengan jelas, sehingga babysitter anda tahu apa yang harus dilakukan setiap harinya dalam hal kegiatan yang mampu memberikan stimulasi pada perkembangan kecerdasan anak, baik kecerdasan intelektual, emosi maupun perkembangan fisik dan sosialnya.
    4. Mengarahkan anak hiperaktif dapat dilakukan dengan cara : periksa anak, pahami anak, latih kefokusan anak, telaten melatih anak, bangkitkan kepercayaan diri anak, kenali arah minat anak, minta anak bicara, dan siap bahu membahu.
    5. Kemampuan membaca merupakan fungsi tertinggi dari otak manusia. Mengajar balita membaca bukan sesuatu yang mustahil. Glenn Doman, pendiri The Institutes of The Achievement of Human Potential mengatakan, para orang tua dapat meningkatkan kemampuan belajar anak, melipatgandakan pengetahuan yang diserap, bahkan potensinya. Orang tua juga perlu memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya karena pada dasarnya balita senang belajar dan menyemangatinya. Salah satu bentuk stimulasi yang baik adalah mengajar balita Anda membaca. Program pelajaran dapat dimulai sejak dini. Usia kurang dari satu tahun adalah saat ideal untuk memulai apabila orang tua ingin menghemat waktu dan tenaga untuk mengajar anak membaca.
  1. SARAN

Berbagai upaya dapat dilakukan untuk membuat balita sehat, cerdas dan lincah serta penuh kreativitas. Faktor yang mempengaruhi yaitu nutrisi dan stimulus yang berikan kepada anak. Oleh karena itu banyaklah membaca untuk menambah pengetahuan dalam mendidik anak secara optimal pada masa balita.