HUMAN RELATIONSHIP,

HUMAS, PR

1. Pentingnya Keterampilan Human Relations (Hubungan Manusia)

  • Diantara ketiga Sumber Daya Organisasi (Fisik, Keuangan dan Sumber daya Manusia) yang paling vital peranannya adalah Sumber Daya Manusia karena merekalah yang melaksanakan organisasi.
  • Tahun 1981 dilaporkan sebuah hasil penelitian di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa collaborative employee / management relationship lebih potensial untuk meningkatkan produktivitas daripada teknologi perangkat keras.
  • Tahun 1982 National Science Foundation melaporkan bahwa industri mobil Jepang lebih produktif dari pada industri yang sama di Amerika Serikat karena collaborative employee / management relationship bukan karena robot.
  • Sebuah studi menunjukkan bahwa hambatan terbesar dalam pengembangan karir sebagai manager adalah rendahnya keterampilan dalam membangun hubungan dengan orang lain.
  • Carnegie Foundation menyatakan bahwa 85% kesuksesan seseorang ditentukan oleh faktor kualitas kepribadian dan hanya 15% ditentukan oleh faktor pengetahuan teknis.
  • Harvard Bureau & Vocational Guidance menyatakan bahwa 66% orang diberhentikan dari pekerjaannya hanya karena gagal membangun hubungan jangka panjang dengan orang lain dan 34% diberhentikan karena rendahnya pengetahuan teknis.
  • Saat ini kita hidup dalam era perekonomian jasa dimana aspek relationship lebih diutamakan daripada produk fisik. Oleh karenanya, perusahaan lebih membutuhkan keterampilan membangun hubungan.
  • Setiap karyawan di IBM rata-rata diberikan training selama 40 jam pertahun. 32 jam diantaranya merupakan training untuk meningkatkan keterampilan Human Relationship.
  • Manager membutuhkan 3 keterampilan untuk sukses (Conceptual, Technical and Human Relationship). Human relationship skill merupakan yang terpenting karena mereka dalam bekerja lebih banyak menggunakan waktu untuk berhubungan dengan orang lain.
  1. Pengertian Human Relations

Human Relationship adalah interaksi diantara manusia. Interaksi tersebut bisa positif atau negatif. Sasaran / tujuan Human Relationship adalah untuk memuaskan kebutuhan karyawan disamping untuk mencapai tujuan organisasi. Bagi sebuah organisasi untuk mencapai tujuannya secara efektif harus mampu membantu karyawannya dalam memenuhi kebutuhannya. Untuk itu, diperlukan keterampilan Human Relationship yang baik.

Bentuk-bentuk Human Relationship yaitu : individual, kelompok dan organisasi. Mengamati perilaku dan Human Relationship dapat dilakukan terhadap individu, kelompok atau organisasi sebagai sebuah kesatuan yang utuh. Dangan memahami bentuk-bentuk Human Relationship tersebut, kita dapat menyelesaikan masalah-masalah Human Relationship dalam organisasi.

Menangani masalah-masalah Human Relationship

Untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam Human Relationship, dapat dipilih 3 alternatif pemecahan :

  1. Mengubah orang lain.
  2. Mengubah situasi.
  3. Mengubah diri sendiri.
  1. Personality

Mengembangkan personality :

Personality (kepribadian) adalah seperangkat sifat atau karakter yang relatif tetap yang dapat menjelaskan dan memperkirakan prilaku seseorang.

  1. Intelligence and Learning Style

Intelligence adalah tingkat kemampuan seseorang untuk mempelajari sesuatu yang baru, menyelesaikan masalah dan membuat keputusan.

Learning Style :

  1. Accommodator adalah belajar melalui apa yang dilakukan dan dirasakan.
Karakteristiknya : Cenderung belajar dari apa yang dialami sendiri.
Tindakan : Mengandalkan perasaan dibandingkan analisa logika.
Decision Making : Cenderung lebih percaya dan mengandalkan informasi orang dibandingkan analisis teknis yang dilakukannya sendiri.
Ciri – ciri : Senang melakukan rencana atau kegiatan baru yang menantang.
Karir : Sebaiknya yang berorientasi tindakan (Marketing, Sales, Politicus, Public Relations dan Management).
Kelebihan : Pemimpin yang baik, bersedia mengambil resiko bila perlu dan mengerti apa yang dilakukan.
Kelemahan : Tidak selalu menetapkan sasaran yang jelas dan ide mengembangkan rencana – rencana praktis, seringkali suka membuang waktu untuk kegiatan yang tidak penting.
  1. Diverger adalah belajar melalui pengamatan dan perasaan.
Karakteristiknya : Mampu menyajikan situasi konkrit dari berbagai sudut pandang.
Tindakan : Imaginatif dan peka terhadap kebutuhan orang lain.
Decision Making/Problem Solving : –  Senang melakukan Brainstorming.

–  Cenderung menganalisis berbagai alternatif pemecahan.

Ciri – ciri : Suka mengumpulkan informasi dan tertarik pada masalah budaya.
Karir : Bidang seni, hiburan, sektor jasa, perancang, kerja sosial, perawat, konsultan dan manager personalia.
Kelebihan : –  Imaginatif dan mampu mengenal dan menyelesaikan masalah.

–  Mampu memahami dan bekerjasama dengan orang lain.

Kelemahan : –  Cenderung terlalu hati – hati dalam menganalisis masalah sehingga lambat dalam bertindak.

–  Cenderung mengabaikan peluang.

  1. Converger adalah belajar dengan melakukan dan pemikiran.
Karakteristiknya : Memandang praktek sebagai sumber informasi.
Tindakan : Menyukai tugas – tugas dan masalah – masalah teknis dibandingkan dengan isu – isu interpersonal dan sosial.
Decision Making/Problem Solving : Cenderung fokus pada solusi.
Karir : Teknik, sains, engineering, production supervisor, komputer, dsb.
Kelebihan : Sangat baik dalam deduksi informasi, problem Solving and Decision Making.
Kelemahan : –  Sering terburu – buru dalam mengambil keputusan tanpa menganalisis berbagai alternatif yang mungkin.

–  Terkadang menerapkan ide secara langsung sebelum di uji coba lebih dulu.

  1. Assimilator adalah belajar melalui pengamatan dan pemikiran.
Karakteristiknya : Sangat efektif memahami sebuah informasi dan menguraikan secara lebih dalam, ringkas dan logis.
Tindakan : Mementingkan dirinya berdasarkan ide atau teori yang dipahami dibandingkan nilai – nilai praktis.
Decision Making/Problem Solving : Cenderung mengacu pada ide dan konsep teoritis.
Karir : Pendidikan, informasi, sains, guru, penulis, peneliti atau perancang.
Kelebihan : Terampil membuat model, membangun teori dan mengembangkan perencanaan.
Kelemahan : Cenderung idealistik, tidak praktis, kerapkali mengulangi kesalahan yang sama dan tidak ada dasar dalam pekerjaannya.
  1. 4. Perception

Persepsi adalah interpretasi seseorang terhadap realitas. Dalam proses persepsi, kita memilah, mengorganisir dan menerjemahkan seluruh lingkungan rangsangan melalui rasa dalam indera kita.

Persepsi dipengaruhi oleh faktor keturunan, lingkungan dan lebih khusus dipengaruhi oleh personalitas, intelligency, kebutuhan, konsep diri (Selfconcept), attitud (sikap) dan nilai – nilai yang dianut.

Bias dalam Persepsi

v     Stereotypes adalah proses menggeneralisasi prilaku seluruh anggota kelompok atau komunitas.

v     Frame of Reference adalah kecenderungan untuk melihat sesuatu secara sempit dan hanya fokus pada hal – hal yang langsung mempengaruhi kita.

v     Expectation adalah kecenderungan menginterpretasi sesuatu berdasarkan apa yang kita harapkan.

v     Selective Exposure adalah kecenderungan untuk sekedar memperhatikan atau mendengar apa yang kita mau saja.

v     Projection adalah proses memperkirakan sesuatu akan terjadi berdasarkan pengalaman masa lalu.