PENDIDIKAN SEKS UNTUK REMAJA

Banyak permasalahan yang berhubungan dengan remaja. Salah satu permasalahan yang akhir-akhir ini sering mencuat dan sangat mengkhawatirkan adalah perilaku seks bebas. Persoalan ini menuai sorotan dari berbagai elemen masyarakat. Sebagai jawaban atas sorotan-sorotan tersebut banyak kalangan yang mengusulkan agar remaja memperoleh pendidikan seks. Namun gagasan ini justru melahirkan kontroversi dalam masyarakat. Sebagian orang memandang pendidikan seks adalah hal yang tabu. Mereka berpendapat bahwa pendidikan seks justru akan mendorong keinginan remaja untuk mempraktekkannya. Anggapan seperti ini sebenarnya muncul karena pendidikan seks diinterpretasikan sebagai suatu pelajaran mengenai cara melakukan hubungan seksual. Bila masyarakat mengetahui apa sebenarnya pendidikan seks, bagaimana bentuk pendidikan seks itu, dan kondisi remaja itu sendiri, maka tentu mereka akan dapat merasakan betapa pentinya pendidikan seks bagi remaja saat ini.

Perilaku seks bebas tidak bisa dilepaskan dari pengaruh perkembangan biologis remaja dimana pada masa ini remaja mengalami perubahan hormon dan fisik yang berlanjut pada mulai adanya rasa ketertarikan terhadap lawan jenis dan rasa ingin tahu yang sangat besar. Dengan keadaan seperti ini, tidak mengherankan bila remaja sangat rentan dengan perilaku seks bebas. Dari beberapa kajian juga dapat diketahui bahwa keinginan remaja begitu besar mengetahui kesehatan reproduksi dan persoalan seksualitas. Rasa ingin tahu yang begitu besar dan dibarengi dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini memungkinkan remaja mengakses segala bentuk informasi yang berhubungan dengan seksualitas. Hal ini semakin mendorong perlunya pendidikan seks bagi remaja dalam bentuk pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja. Penelitian Djaelani yang dikutip Syaifudin (1999: 6) menyatakan bahwa 94% remaja mengatakan butuh nasehat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Namun banyak remaja yang mengakses informasi mengenai seks dengan cara-cara yang tidak tepat. Pemerolehan informasi yang tidak tepat ini pada gilirannya semakin mengarahkan remaja pada perilaku seks bebas. Data menunjukkan bahwa remaja usia 12-18 tahun, 16% mendapat informasi seputar seks dari teman mereka, 35% dari film porno, 5% dari orang tua. Berdasarkan data tersebut, maka dapat dilihat bahwa orang tua memegang peranan yang sangat kecil dalam memberikan pendidikan seks untuk remaja. Padahal remaja bisa memperoleh pendidikan seks yang lebih positif dari orang tua dari pada mencari sendiri dengan cara-cara yang tidak tepat seperti menonton VCD porno, membahas bersama teman, dan lain-lain. Contohnya ketika anak melihat kekerasan ataupun pelecahan seksual dari media, maka orang tua dapat langsung mengklarifikasi permasalahan tersebut, memberikan penjelasan dan bimbingan yang tepat kepada anaknya seperti memberikan nasehat untuk menghindari tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya pelecahan seksual, memakai pakaian yang lebih tertutup, dan menghindari berduaan dengan lawan jenis. Disamping pemberian bimbingan dalam bentuk nasehat, remaja juga harus dibekali dengan pengetahuan mengenai akibat-akibat yang mungkin timbul dari perilaku seks bebas karena data menunjukkan bahwa banyak remaja yang belum mengetahui akibat dari perilaku seks bebas terhadap kesehatan reproduksi mereka. Menurut survey UNICEF tahun 2003 dan 2004 dikalangan murid SLTP di Papua dan di beberapa daerah di Jawa Timur menunjukkan bahwa banyak remaja belum memahami HIV/AIDS, suatu penyakit akibat dari perilaku seks bebas. Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 juga menunjukkan sekitar 34% perempuan dan 21% laki-laki berusia 15-124 tahun belum mendengar tentang HIV/AIDS. Dari survey-survey ini menunjukkan bahwa banyak remaja yang belum memahami akibat dari perilaku seks bebas, dan tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain pun masih banyak yang belum mengetahui akibat dari perilaku seks bebas. Hal ini juga semakin menunjukkan pentingnya pendidikan seks bagi remaja dalam arti pengetahuan tentang kesehatan reproduksi mereka. Terkait dengan perilaku seks bebas dikalangan remaja, ada pesan untuk remaja seperti dikutip dari penyampaian Dialog Interaktif Regional “Dibalik Layar Seks Education” oleh KARISMA, FMIPA UM,” aktifitas seksual bukanlah sebagaimana kebutuhan jasmani ketika tidak dipenuhi akan mendatangkan penyakit jiwa dan kematian. Namun ia merupakan bagian dari kebutuhan naluri yang mendorong pemenuhan ketika ada stimulus yang datang dari luar tubuhnya. Inilah yang menjadi dasar larangan agama untuk mendekati sarana kemaksiatan, menghindari dari perbuatan eksploitasi dari organ seksual, menjaga mata dari pandangan tuna sosial lainnya karena hal tersebut akan menjadi sarana yang mendorong nafsu untuk melakukan tindakan  pemanfaatan organ reproduksi secara tidak benar. Agama telah mengajarkan kepada kita, hakekat diciptakan naluri ini adalah untuk melestarikan jenis keturunan manusia. Dengan pernikahan, akan memadukan cinta kasih suami istri sehingga melahirkan generasi takwa yang memancarkan rahmat Ilahi menuju kehidupan umat yang mulia.

Wallahu’alam.


http://www.halalsehat.com