KONDISI DAN KETERPURUKAN PENDIDIKAN INDONESIA

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan sampai kapanpun dan dimanapun anda berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidik harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti luhur dan moral yang baik.

Prof. Toshiko Kinosita, guru besar Universitas Waseda Jepang mengemukakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya karena pemerintah Indonesia selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Maksudnya bahwa, tidak ditempatkannya pendidikan sebagai perioritas terpenting dikarenakan  masyarakat Indonesia mulai dari yang awam hingga politisi dan pejabat pemerintah hanya berorientasi mengejar materi untuk memperkaya diri sendiri serta tidak berfikir panjang dan jauh kedepan tentang masa depan bangsa Indonesia.

Melalui krisis multidimentional yang melanda Indonesia telah membuka mata kita terhadap mutu sumber daya manusia (SDM) Indonesia, dan secara tidak langsung juga merujuk pada mutu pendidikan yang menghasilkan SDM itu sendiri. Meskipun sudah merdeka lebih dari setengah abad akan tetapi mutu pendidikan Indonesia masih sangat rendah dan memprihatinkan. Hal tersebut setidaknya dapat kita ketahui dengan melihat 2 (dua) indkator sekaligus, yaitu indikator makro seperti Pencapaian Human Development Indeks (HDI) dan indikator mikro seperti misalnya kemampuan membaca. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNDP pada Human Development Report (2005), ternyata Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara di dunia. Bahkan yang lebih mencemaskan peringkat tersebut justru sebenarnya makin menurun dari tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tahun 1997 HDI Indonesia berada pada peringkat 99, lalu menjadi peringkat 102 pada tahun 2002 dan kemudian merosot lagi pada tahun 2004 menjadi 111.

Menurut IMD (2009), dalam hal daya saing Indonesia menduduki peringkat ke 45 dari 47 negara. Sedangkan Singapura berada pada peringkat 2 dan Malaysia serta Thailand masing masing pada urutan 25 dan 23. Terkait dengan masalah produktivitas, terungkap bahwa produktifitas SDM Indonesia sangatlah rendah. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya kepercayaan diri, kurang kompetetif, kurang kreatif dan sulit berprakarsa sendiri (self starter) . hal itu disebabkan oleh sistem pendidikan Indonesia  yang top down dan tidak mengembangkan inovasi dan kreativitas. Bagi para penganut teori-teori “Human Capital”, sebagai mana dideskripsikan oleh Walter W. Mc Mahon dan Terry G. Geske dalam bukunya berjudul “Financing Education: Overcoming Mefficiency and Incquity”, terbitan University of Illionist, bahwa nilai penting pendidikan adalah suatu investasi sumber daya manusia yang dengan sendiri akan memberi manfaat moneter. Itulah sebabnya investasi pendidikan yang diperlukan bagi bangsa Indonesia sebenarnya harus terlebih dahulu mengarah terhadap pada pendidikan dasar dan bukan pendidikan yang super canggih. Berpedoman pada yang telah dicanangkan  oleh UNESCO, proses pendidikan dasar setidaknya harus bertumpu pada empat pilar yaitu learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), learning to live together (belajar untuk menjalani hidup bersama).

Pemerintah tidak melihat bahwa pendidikan merupakan bagian terpenting yang dapat mendukung kemajuan suatu Negara dan dapat mencerminkan suatu Negara yang memiliki intelektual, sehingga kita tidak mudah dipermainkan oleh Negara lain karena kita memiliki kemampuan SDM yang cukup. Oleh karena itu pemerintah harus bisa meningkatkan anggaran pendidikan serta memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan. Dimana kita dapat melihat sekarang ini banyak sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai seperti gedung sekolah, buku-buku pelajaran dan alat-alat praktek. Disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah terhadap kemajauan pendidikan di Indonesia, sehingga kurangnya SDM yang berkualitas yang dapat mengelolah SDM yang ada di Negara kita. Seperti tambang nikel yang ada di Moramo itu dikelolah oleh pihak asing karena tidak adanya masyarakat Indonesia yang mengetahui cara mengelolahnya.

Oleh karena itu penting sekali bagi Indonesia sebagai Negara berkembang untuk mengembangkan pendidikannya dan juga memberi sedikit sosialisasi kepada masyarakat bahwa pentingnya pendidikan  agar kita dapat menghadapi era globalisasi dimana era kebebasan tak adalagi batasan serta memberi pemahaman tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Agar pendidikan kita tidak terpuruk lagi, maka pemerintah harus mencanagkan hari membaca sedunia agar masyarakat Indonesia dapat memiliki wawasan yang sangat luas. Pemerintah harus lebih meningkatkan anggaran pendidikan serta menaikkan gaji guru  agar mereka dapat mengajar secara professional serta anggaran pendidikan harus merata dan juga pengadaan sarana dan prasarana pendidikan harus merata keseluruh pelosok Indonesia. Sehingga tidak ada lagi kecemburuan sosial dengan begitu pendidikan Indonesia tidak terbelakang atau terpuruk dari negara maju. Sistem pendidikan Indonesia yang harus diperhatikan  karena ini juga dapat menunjang perkembangan pendidikan Indonesia serta pendidik memiliki kualitas dalam bidangnya masing-masing agar dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang memiliki kualitas tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Dedy Supriadi. 2005. Membangun Bangsa Dengan Pendidikan.

Kendari Pos. 2009. Guru Sekolah Swasta Butuh Kompensasi.